Rabu, 25 September 2019

''Air Mata Darah Orang Papua Membasahi Bumi Cederawasih''



Imej mungkin mengandungi: satu atau lebih orang, orang berdiri, orang berjalan dan luaran



    Pernyataan ini tidak elok seharusnya kapolresMeneliti lebih dalam kerusuhan yang terjadi di wamenaTersebut, semua pemerintah aparatur negara melihat
    Terhadah masyarakat papua seolah-olah membersalahkan tidak ada kehadilan bagi orang-orang Papua pada umum lebih khusus pada mahasiswa pelajar, kami sudah memahami
    Ketidak Kehadilan di negeri ini bagi kami orang Papua pemerintah kapan mengakui dosa
    Selama ini lakukan kepada bangsa Papua Barat.

    Ruang demokrasi diblockade, krimilnalisasi trus berlarut, kejahatan pembolokiran Internet di bumi cederawasi trus berulang, beribu-ribu prajurit peran    memburu monyet-monyet Papua, ruang dialog menutupi, mencabut nyawa orang Papua yang  melayang diabaikan begitu saja.

    Wahai Negeri Ini Sebenarnya Memangil Mengajak orang-orang kulit hitam ramput keriting dari ubut timur Dibumi Cederawasih mengjak dipaksain bergambung Di NKRI ini karena manusiannya? Kekayaa dan Sumberdaya Alamnya?  kami bingung? aku berteriak tidak ada orang mendenarnya, aku menangis tidak ada membujukku, saat aku luka trus menerus melukai ku aku butuh kehidupan, seperti orang lain hidup aku berusia masih muda untuk menikmati dan anbut masa depanku Tuhan TUHAN belum memangil aku pulang kerumah Bapak disorga, kenapa Engkau meniksa aku dan mempunu aku seperti binatang liar.




















     

    " kata kapolrea jayawijaya wamena.
    itu aksi pelajar siswa/i sma pegeri _
    yang disusupi oleh knpb dan mahasiswa
    mereka berpakaian baju seragam sma. jadi
    bukan pelajar semuanya, tapi aksi itu sudah
    disusupi.
    ungkapan kapolres wamena benar_benar
    tipu terhadap wartawan/23_09_2019.
    kerusuhan di wamena dampaknya dari
    seorang "guru" yang menyebut salah
    satu siswa dengan kata (monyet). bukan
    knpb dan mahasiswa di susupi kepada
    siswa/i wamena.

    Wiranto Tutup Pintu Dialog dengan ULMWP-KNPB 25 SEPTEMBER 2019

    DPRD Papua bertujuan baik untuk menyelesaikan persolan Papua yang berpanjangan ini namun kami mengerti bahwa orang selalu alergi dengan kedamaian dan pelagaran Ham berat ini punya  keniatan untuk dibiarkan persoalan  Negeri Papua berlarut-larut.


    “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Galatia 4:19).

    Bagaimana caranya agar kita bisa sabar terhadap mereka? Kita harus punya hati yang penuh pengampunan. Seperti Daud dengan raja Saul. Daud sudah berusaha menghibur raja Saul dengan musiknya pada saat ia dirasuk roh jahat. Tetapi apa balasan dari raja Saul? Malahan ia mau menancapkan Daud ke dinding dengan tombak (1 Samuel 18:11). Tetapi Daud tetap sabar terhadap raja Saul






























     
    Kapolres wamena AKBP
    "Tonny Ananda suwadaya" saat dihubungi
    Wartawan,senin/23_septemberr_2019

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar